Sekolah peradaban dari Bromo (by lambang wicaksono)
Sekolah peradaban dari Bromo
Bangsa ini tidaklah pernah menang jikalau melawan belanda tanpa perang gerilya, sebuah tempat terasing di tengah kesunyian dan jauh dari kebisingan yang sering kali menumpulkan mata batin setiap insan yang bergelut setiap detiknya. Jikalau kita mau melihat setiap episode perjalanan orang-orang yang kini menikmati kenyamanan hidup, maka akan kita lihat sebuah sisi diantara mata uang yang berdekatan bahwa ada perjuangan dan pengorbanan yang sering kali menghadirkan sebuah zona kenyamanan dan perasaan tentang ketidakmampuan diri dalam menghadapi setiap permasalahan hidup.
Indonesia, sebuah negeri yang makmur dan subur karena surga pernah menetes dan menjatuhkan buliran-buliran madu yang manis. Begitu banyak pesona yang dihadirkan di negeri ini, keramahan dan keelokan penghuninya memiliki beragam identitas diri yang tak pernah habis bahkan tergerus oleh hujan badai sekalipun. Kearifan lokal yang kini menjadi merek dari negeri ini yang laku dijual ke negeri-negeri dengan empat musim, sekarang menjadi ikon yang layak dan pantas untuk diperhitungkan. Walaupun dahulu jauh di tempat yang penuh kesibukan, manusia memincingkan mata kala melihat sebuah identitas anggun dan bagus dari tempat yang penuh kicau, nyanyian burung dan suara letusan gunung yang setiap hari terdengar.
Di tempat itulah sesungguhnya peradaban itu dimulai, dengan kebersahajaan masyarakatnya dan kemampuan untuk mengolah setiap jengkal bumi Allah ini. Maka hanya ketakjuban demi ketakjuban yang selalu engkau perlihatkan kepada pemilik alam ini. Berada tepat dikaki langit, kami melihat sebuah sekolah yang indah dan megah karena dindingnya dipenuhi intan dari negeri Afrika. Intan itu hanya terendam lumpur bak tumbuhan gambut di dalam rawa semenanjung Kalimantan. Namun Dengan bermodal singsingan lengan baju maka engkau dapat memperlihatkan keindahan dan keeksotisannya kepada seluruh dunia.
Ngadirejo, desa kecil yang terletak di punggung sebelah timur kaldera gunung bromo kini hanya bisa terdiam kala debu dan batu-batu kecil menghantam dan merobohkan sekolah mereka. Sekolah yang indah dengan taman dan panggung pentas mungil yang unik serta bunga-bunga dengan daun hijau semerbak menambah keanggunan sekolah itu. Bahkan ruangan-ruangan indah yang dahulu selalu dibanggakan karena merupakan goresan tangan dari kuas lukis kepala sekolah kini menjadi saksi bisu perjuangannya kala gunung wisata itu memberikan cobaan kepada mereka.
Namun, semua sudah terjadi dengan kehendak sang pencipta. Saatnyalah kini kami membangun kebersamaan diantara puing-puing kayu, batubata dan genteng yang berserakan di antara sela-sela jarijemari kaki kami. Tangis dan pilu yang sebenarnya mesti kami lihatkan kepada mereka, namun hati dan jiwa ini malu kala mereka telah datang kesekolah dengan senyum tersungging di tepi bibir bahkan jauh sebelum sang jago berkukuk di ufuk timur. Tubuh mungil itu telah datang ke SD Ngadirejo dengan tas putih yang tampak berdebu dan topi kebanggaan mereka “merah putih” yang telah berubah warna dengan hiasan abstrak debu bromo di sudut depan simbol garuda.
Inilah sekolah yang sesungguhnya, sekolah peradaban dari sebuah tempat yang jauh bahkan dari peradaban modern yang kini mengelabui setiap insan dengan kemudahan-kemudahannya. Dengan segala keterbatasan kami melihat kehebatan anak-anak itu, karena mereka yakin di alam semuanya tersedia. Kreatifitas tidak pernah terbatas oleh tempat, keadaan dan waktu. Book For Mountain sebagai sebuah keluarga merasakan bahwa di jalan inilah kami semakin mendalami makna kehidupan yang bersumber dari keberartian bagi orang lain. Kehidupan menjadi menjadi lebih berharga ketika ia mempunyai saham dan peran bagi orang lain. Dan kami merasa kehidupan akan menjadi miskin makna dan rendah nilainya ketika hanya banyak bermanfaat bagi lingkup pribadi kami. Prinsip inilah yang menyebabkan kami menikmati kesibukan berpikir dan banyak melakukan aktifitas transfer knowledge di tempat-tempat terjauh dan pelosok walaupun kesibukan di tempat lain juga menyertai kami.
Ada sebuah perasaan bangga ketika suatu saat nanti ilmu dan buku yang kami berikan kepada anak-anak dikaki gunung Bromo mengantarkan mereka kelak ke depan pintu kesuksesan hidup. Sehingga kami merasakan keberartiannya kami dalam perjalanan hidup ini. Begitu banyak cerita dan pesan hidup yang kami dapatkan berada di tempat yang semuanya berbeda; keyakinan, cara bertahan hidup, dan cara memaknai hidup yang semuanya adalah pelajaran berharga yang tidak kami dapatkan hanya sekedar duduk manis di ruangan ber-AC di kampus biru UGM.
“Semoga Allah SWT bangkitkan kebaikan dan kekuatan disepanjang perjalanan Book For Mountain ini . Sungguh sebuah buku bagi seorang anak di sudut penjuru negeri dapat mengubah jutaan jiwa manusia dan nasib dunia kelak”
Lambang wicaksono
110121032011