book for mountain

kami adalah komunitas yang mencintai anak-anak dan peduli akan pendidikan di seluruh daerah pelosok indonesia.
kami berusaha mendekatkan masa depan anak indonesia melalui buku. we love kids we love books we adore indonesia

potret sebuah keteguhan (by: tya hermoza)

Hari-1 (1 maret 2011)

Perjalanan itu dimulai sejak pukul setengah 8 pagi, Kreta Ekonomi Sritanjung telah siap mengantarkan kami menuju Probolinggo. Banyak pertanyaan yang muncul di benakku, ntah apa yang akan kami temui nantinya di Desa Ngadirejo-Bromo itu. Yang pasti akan ada pengalaman yang baru.

Hari sudah gelap ditemani guyuran hujan kami telah menginjakkan kaki di kota Probolinggo. Malam ini aku dann teman-teman akan menginap di rumah Pak Ghofur (Kepala Sekolah SDN Ngadirejo). Kami disambut dengan hangat oleh keluarga Pak Ghofur dan kami diceritakan tentang bagaimana kondisi desa Ngadirejo saat ini. Hingga akhirnya kami terlelap dan siap untuk perjalanan esok hari menuju Bromo dan melihat secara langsung apa yang baru saja diceritakan oleh Pak Ghofur.

 

Hari-2 (2 Maret 2011)

Pagi yang cerah mengawali langkah kaki kami. Setelah semalam menempuh perjalanan Jogja-Probolinggo, hari ini kami siap menyaksikan langsung semua cerita yang telah dipaparkan oleh Pak Ghofur. Kami telah siap untuk sebuah pengalaman baru itu.

Pengalaman itu telah dimulai sejak keberangkat, untuk pertama kali nya aku duduk di atas atap “bison” (sebutan untuk angkutan di daerah ini). Bisa menikmati pemandangan indah yang tersaji dengan begitu apiknya. Namun semua pemandangan itu berubah dari yang pepohonan hijau menjadi batang-batang kering, rumah-rumah yang sudah banyak hancur, dan kebun yang kini menjadi lautan pasir, (satu cerita tentang Bromo semalam telah aku saksikan sendiri hari ini).

Kini kami telah sampai di desa Ngadirejo, tepatnya SDN 1 Ngadirejo. 3 buah tenda berdiri di depan sekolah, satu tenda digunakan untuk dua kelas. Tenda itulah yang selama 3 bulan ini menjadi saksi perjuangan anak-anak desa Ngadirejo ini untuk bisa terus belajar, serta menjadi saksi perjuangan para pendidik yang mencintai pekerjaannya.

Siang itu kami diperkenalkan dengan dewan guru yang jumlahnya tidak banyak, tapi mereka adalah orang-orang yang terpilih untuk mengantarkan anak-anak dari desa ini dalam menggapai impian mereka. Selanjutnya kami diarahkan untuk istirahat dirumah Pak Ngawulo (buat yang putri) dan di rumah Pak Shinta (buat yang putra).

Seperti yang sebelumnya, di keluarga ini pun kami disambut dengan hangat, suasana kekeluargaan sudah terasa di hari pertama kami datang di keluarga ini. Semoga silaturahim yang baru terjalin ini akan bisa lama. Walau keluarga ini menganut agama Hindu, tapi mereka menerima kami tanpa ada sebuah keengganan.  Inilah potret keramah tamahan suku Tengger. Di rumah ini kami tinggal dengan Bapak Wul dan istrinya, juga ada cucu beliau Rendi, dan mas Munawi anak beliau. Sore itu beberapa anak sudah datang ke rumah pak wul untuk sekedar berkenalan dan juga belajar.

 

Hari-3 (3 Maret 2011)

Hari pertama mengajar di SDN Ngadirejo, walaupun kemarin sudah bertemu dengan beberapa anak dari SD ini, mengajari mereka berbagai keterampilan. Mungkin apa yang kami bawa ini bukanlah apa-apa.  Tapi, niat ini tulus untuk  memberikan sesuatu yang baru yang bisa mengembangkan kreatifitas anak-anak disini, juga memberikan informasi apa saja yang kami tahu dan ingin mereka ketahui. Dan semoga niat itu bisa tersampaikan kepada anak-anak yang hebat ini. Selama disini kami akan mengajar paper Quiling, menggambar, origami, kerajinan flanel, mengajak anak-anak membaca, dan lain sebagainya.

Hari ini aku melihat betapa semangat mereka sungguh luar biasa. Walau ada bencana, tapi mereka bisa tetap ceria, tidak larut pada keadaan. Sesuatu yang harus aku pelajari agar kita bisa berdamai dengan segala kekurangan yang ada, karena kekurangan itu adalah jalan menuju kesuksesan jika kita bisa memahami dan belajar dari kekurangan itu. Hari ini aku juga melihat kesungguhan dari guru-guru di SDN ini untuk mendidik para tunas bangsa. Mereka mendidik dengan hati yang tulus, dan bisa aku pahami “mereka mengajar karena cinta”. Selalu memberi motivasi dan menumbuhkan mental para siswa untuk terus berprestasi. Kalau kata Pak Gofur anak-anak itu adalah mutiara yang terpendam, dan mereka siap menggali mutiara itu agar mereka bisa bersinar. Sangat mengharukan dan sangat menginspirasi.

Pagi ini aku melihat anak-anak murid dan guru-guru mereka bergotong royong membersihkan lumpur. Bapak gurunya mencangkul anak murid membawa pasir itu dengan beko serta anak-anak yang membersihkan lapangan voli mereka yang sebenarnya itu adalah kelas yang telah rubuh, dan kini dijadikan lapangan voli. Tidak ada jurang pemisah antara guru dan murid, semua bahu membahu dan bekerjasama.

Selepas mengajar aku dan teman-teman bermain dengan anak-anak SDN ngadirejo, ada yang bermain petak umpet, ada juga yang bermain voli, gerobak sodor, bermain gamelan dan lain sebagainya. Jadi teringat permainan ketika masih kecil, yang mungkin sekarang sulit ditemukan di kota. Karena anak-anaknya lebih suka bermain playstation, atau apapun itu. Tapi disini kehangatan masa kecil itu hadir kembali. Tawa canda mengiringi setiap gerak langkah kami, bahkan aku lupa kalau disini sekarang lagi terkena bencana. Kali ini aku belajar tentang bagaimana menjalani hidup tanpa harus diratapi, selalu ada hikmah dibalik peristiwa. Dan semua itu ditunjukkan oleh wajah-wajah polos ini.

Sore harinya anak-anak datang ke rumah pak Wul untuk belajar, ada yang belajar buat bunga kertas, ada yang dijelasin tentang komponen komputer, ada yang belajar candi dan ada pula yang nerbangin roket. Selalu dipenuhi tawa ceria khas anak-anak itu.

 

Hari-4 (4 Maret 2011)

Rasanya aku semakin mencintai desa ini, mungkin terdengar berlebihan tapi itulah yang kurasa tanpa direkayasa. Bersama dengan keluarga ini, aku merasa diperlakukan sebagi keluarga, bukan orang asing yang hanya menumpang tinggal. Setiap pagi bapak dan ibu memasakkan kami air hangat hanya untuk wudhu atau cuci muka, membuatkan sarapan, makan siang, memasak air hangat untuk kami mandi (walau kadang enggan mandi karena dingin yang luar biasa, sampai ibu wul mengabsen kami satu per satu supaya mandi ^^ ). Ketika malam menyuruh kami istirahat, bahkan menyelimuti kami. Bener-bener sudah seperti keluarga.

Pagi ini kami ke sekolah untuk mengajar, seperti kemarin walau tidak selama hari sebelumnya. Karena hari jumat sekolah hanya setengah hari. Hari ini ada simulasi contoh gunung meletus, dan penerbangan roket. Ada juga yang bermain voli, kalau soal voli anak-anak disini hebat-hebat. Aku saja belum tentu bisa main. Mereka main voli dengan guru-guru juga. Sementara sebagian bapak guru membersihkan lumpur-lumpur di atap. 

Selepas dari sekolah kami berencana melihat gunung Bromo karena besok salah seorang teman lebih dahulu pulang ke jogja, dan sekarang kami siap pergi. Katanya sih medannya cukup menantang, dengan jalan medaki 5 km lebih. Masalah kuat atau tidak itu urusan belakangan yang penting kami pergi  dulu. Kami berdelapan ditemani Rendi, Sinta, Yongki dan Ranti. Belum sampai setengah perjalan lelah sudah mulai terasa. Tapi pemandangannya bagus, jadi cukup menghibur. Padahal yang terlihat disekeliling hanyalah pohon-pohon yang tak lagi hijau dan lautan pasir yang luas. Pasti ketika semua masih hijau pemandangannya jauh lebih bagus. Kami sudah merasa letih tapi Rendi, Sinta, Yongki dan Ranti masih bisa berlari-lari tanpa ada wajah kelelahan.

Walau dengan tertatih dan nafas yang sudah terengah-engah akhirnya Bromo bisa terlihat juga. Dengan gumpalan asap hitamnya akhirnya aku melihat Bromo juga, karena selama ini cuma lihat di televisi atau foto saja. Senang rasanya, ada sebuah kepuasan karena letih itu terbayar sudah. Setelah sesi pemotretan usai (sayang udah sampe Bromo tapi tidak foto-foto) sekarang saatnya pulang. O iya ternyata Pak Wul ikut menyusul kami, mungkin khawatir kali ^^ pulangnya lebih menyenangkan dari ketika berangkat, secara jalannya turunan, kalau waktu berangkatkan jalannya mendaki. Pulangnya bisa lari-lari di pasir, dan tentunya lebih cepat sampe. Sampai rumah langsung mandi tentunya dengan air hangat, terus makan dengan sangat lahap. Maklum habis mendaki gunung (^^,)v

Malamnya tetap dengan rutinitas ngajar buat anak-anak yang datang minta diajarin. Ada yang belajar origami, matematika, komputer dan lain-lain. tapi Cuma sampai jam setengah 9 malem, karena besok Nyepi, jadi semua listrik dipadamkan. Dari sore kami sudah sibuk mencarger alat-alat elektronik karena listrik baru hidup lagi hari minggu. Sebelumnya pak wul dan mas munawi (anak pak wul) udah menjelaskan kalau nyepi itu gimana. Puasa tanpa makan sehari semalam, tidak berbicara juga. Malam ini Mas munawi dan juga ibu nya rendi pamitan untuk Nyepi.  Malam ini kami tidur lebih awal. Indahnya Bromo sore itu terbayang lagi

 

Hari-5 (5 Maret 2011)

Tak terasa sudah 5 hari berada di desa ini, dan hari ini adalah hari raya Nyepi, namun bapak dan ibu wul serta bapak dan ibu shinta tidak ikut nyepi. Selepas sarapan dan nunggu Khofif diantar ke stasiun kami pergi ke wonokerto yaitu desa sebelum ngadirejo, perjalanannya hampir sama dengan perjalanan waktu ke Bromo. Tapi setidaknya sudah sedikit terbiasa dengan medan yang mendaki dan jalan setapak. Tapi tentunya tetap ngos-ngosan. Pulanganya melewati jalan raya dengan kabut yang turun membuat perjalanan semakin berkesan. Ada hal menarik, ketika di perjalanan pulang melewati komplek pemakaman yang bertuliskan “RUMAH MASA DEPAN”. Sebuah Nasihat yang secara tidak langsung disampaikan, karena pemakaman itulah kompleks tempat tinggal kita nantinya. Akhirnya kami tiba juga di rumah, 2 hari perjalanan yang luarbiasa.

 

Hari-6 (6maret 2011)

Hari ini menjadi hari perayaan bagi masyarakat disini, terutama bagi yang ikut Nyepi. Pagi ada upaca sembahyang di pura. Kami berencana untuk melihat upacara di pura. Pagi-pagi kami sudah bersiap, langsung menuju pura. Pemandangan yang baru bagiku. Masyarakatnya menggunakan baju adat mereka sembahyang dengan keadaan yang tidak cukup kondusif. Karena pagi ini kabut sedikit menutupi jarak pandang dan juga hujan pasir yang sedari pagi sudah turun. Selama disini aku jadi terbiasa dengan suara gemuruh Bromo, dengan hujan pasir dan udara dinginnya.

Selepas melihat upacara kami langsung menuju sekolahan. Walaupun hari ini adalah hari minggu, tapi anak-anak tetap datang seperti yang telah diumumkan 2 hari yang lalu bahwa hari ini kami akan wisata ke Bromo. Anak-anak sudah siap dengan bekal mereka masing-masing, dan tentunya senyum serta semangat yang mereka bawa setiap harinya. Karco pun sudah datang walau rumahnya jauh dan bahwa hari ini adalah hari libur. Ditemani 3 orang guru (Pak Wid, Pak Dwi dan Pak Jujuk) serta 29 orang siswa kami berangkat untuk wisata. Perjalanan hari ini terasa lebih cepat karena anak-anak yang semangatdan tetap bisa lari-larian walau medannya yang mendaki pasti membuat letih. waktu ditanya apakah mereka capek, dengan santai mereka hanya menjawab “kan udah biasa mba”. Aku akui anak-anak disini fisiknya kuat-kuat. Walau beberapa kali berhenti untuk istirahat akhirnya sampai juga di Gunung Kidul (ujung bukit yang menjadi batas kaldera dari gunung Bromo). Kami istirahat sambil melihat pemandangan dan anak-anak menyantap bekal yang mereka bawa.

Selesai  istirahat kami melanjutkan perjalanan ke Lava View sebelumnya mampir dulu melihat kantor pemantauan gunung Bromo. Tak ada letih di wajah anak-anak itu. Mereka masih tetap semangat dan ceria. Sampai ditempat yang dituju anak-anak langsung pada jajan bakso, kami juga ikutan beli bakso  ^^, udara yang dingin sangat pas bila ditemani hangatnya semangkuk bakso. Aku juga sempat melihat ke galeri bagaimana hipotesa terjadinya gunung Bromo dan sempat beli cinderamata, judulnya Cuma mau nemeni Halim beli sovenir, tapi malah jadi ikutan.

Setelah puas beristirahat, kami kembali pulang, tapi kali ini anak-anak dibagi ke dalam 4 kelompok yang akan mencari jalan yang berbeda dari jalan ketika kami berangkat tadi. Sesampainya di pos yang di tentukan, kami beristirahat sambil bermain sesuai kelompok yang sudah dibagi tadi. Setelah tebak-tebakan selesai perjalanan dilanjutkan lagi. Berjalan menuruni bukit dengan sesekali bernyanyi, hingga akhirnya sampai juga di sekolah. Tapi bukannya merasa lelah anak-anak malah langsung main voli, dan ternyata hari itu ada Pak Kepala Sekolah juga yang katanya baru membuat meja tenis meja dan juga bersih-bersih sekolah. Dedikasi seorang Kepala sekolah.

Sore ini Halim, sogi dan juga subhan pulang lebih dahulu. Jadi kami hanya tinggal berempat saja sekarang. Kami kembali ke rumah tentunya untuk makan dan bersih-bersih diri, anak-anak sore itu sudah datang untuk belajar lagi. Seperti yang sebelumnya kami mengajari mereka bermacam-macam hal. Hingga malam datang dan saatnya istirahat. Ada perasaan sedih karena besok adalah hari terakhir kami mengajar sebelum kembali ke jogja.

 

Hari-7 (7 Maret 2011)

Pagi ini kami sudah siap ke sekolah, tidak untuk mengajar tapi mengadakan lomba. Bagi anak kelas 1-4 diadakan lomba menggambar. Dan anak kelas 4 -6 ada lomba ranking 1. Anak-anak cukup antusias mengikutinya. Tapi sebelumnya kami juga mengajarkan anak-anak membuat paper quilling.

Selesai pengumuman pemenang, kami pun berpamitan dengan anak-anak dan para guru. Tak kuasa menahan haru hari ini. Beberapa anak juga nagis seperti Ika, Akas, Yongki dan yang lainnya. Walaupun baru mengenal seminggu anak-anak disini juga guru-gunya, tapi hati ini sudah merasa mengenal mereka cukup lama. Mereka adalah keluarga baru buat kami.

Sore ini anak-anak berkumpul di tempat kami, belajar merajut, kerajinan flanel, paper quiling dan lainnya. Menghabiskan waktu karena besok kami sudah harus kembali ke jogja. Mas munawi mengajak kami besok untuk melihat sunrise, dan itu berarti kami haru bangun pagi sekali. Jam 4 subuh. Dan sekarang kami telah selesai packing, saatnya tidur agar besok bisa bangun lebih pagi.

 

Hari-8 (8 Maret 2011)

Pagi-pagi sekali kami sudah bangun walau udara sangat dingin tapi kami tetap semangat. Pagi ini hujan pasir mengguyur desa Ngadirejo. Kami berangkat dengan 4 sepeda motor bersama Mas Munawi, Pak jujuk, Pak Shinta dan bapaknya Rendi. Sangat dingin sekali ternyata diluar. Sepanjang jalan menuju penanjakan pemandangan yang kontras kami lihat disini. Didesa Ngadisari pemandangannya masih hijau berbeda sekali dengan di ngadirejo.

Akhirnya kami sampai juga di lokasi, melihat Bromo dari puncak. Hari ini Bromo sedang erupsi, sesekali terlihat kilatan yang kemudian disusul suara gemuruh. Dari sini bisa terlihat bahwa arah abu dan pasir itu mengarah ke ngadirejo.

Apa yang terlihat hari ini sangat-sangat luar biasa, melihat fenomena alam secara langsung, ujung gunung Semuru bisa kami lihat dengan jelas, sambil menikmati indahnya lukisan alam yang tersaji di hadapan. Betapa Maha Kuasanya Pencipta Alam Semesta ini..Subhanallah hanya itu yang bisa kuucapkan untuk melukiskan ketakjubanku.

Setelah puas melihat-lihat kami pulang ke rumah untuk mandi, sarapan dan bersiap-siap. Jam 9 kami sudah harus ke stasiun. Akhirnya tiba saatnya untuk kami berpamitan dengan keluarga pak wul dan pak shinta, ada haru yang menyeruak seakan enggan berpisah. Tapi setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Kami dipesai untuk kembali lagi ke desa ini saat hari Raya Karo. Semoga bisa kembali lagi kesini nantinya.

Kini tinggal cerita indah tentang sebuah desa suku Tengger dengan segala keramah tamahan dan kebersahajaannya. Pengalaman yang luar biasa untuk masing-masing kami. Dan tentunya banyak pelajaran yang kami dapat dari sini. Ada Sosok kepala sekolah dan guru-guru yang mendidik dengan hati dan kecintaan, anak-anak yang tetap semangat dan ceria menatap masa depannya, masyarakat yang terbuka dan sangat kekeluargaan. Di desa ini aku bisa menemukan tokoh-tokoh dalam cerita Laskar Pelangi, tapi mereka semua adalah Laskar Pelangi dari desa Ngadirejo. Para Naga Betara yang siap menerjang. ^^

 

Potret Sebuah keteguhan

Aku baru saja mendengar cerita tentang mu

Dan kini aku bisa bertemu langsung denganmu,

Tak ada yang istimewa waktu itu

Seorang anak laki-laki bertubuh mungil

Setidaknya itulah yang terlihat

 

Sepintas tubuh mungilmu  memang terlihat lemah

Tapi apakah kalian tahu bahwa tubuh mungil itu sangatlah istimewa

Berjalan puluhan kilo setiap harinya hanya untuk sebuah kata “Belajar”

Ketika mentari masih enggan bangun dari peraduannya

Engkau telah  berjalan menggapai cita-citamu

Tak peduli dingin yang menghembus diantara jalanan terjal

Bahkan bulir-bulir pasir yang kini menghujani desa ini tak sedikitpun menyurutkan langkahmu

 

Kini jalan yang curam diantara pepohonan yang tak lagi hijau

menyanggah smua pikiranku tentangmu

aku tau kau tidaklah biasa, kau istimewa

Kau sungguh tegar

Kaulah potret keteguhan

 

Langkahkanlah kakimu dengan berani,

Hadapilah semua rintangan dengan mental pemenang,

Karena hari ini adalah untuk masa depan

Engkaulah Lintang dari Bromo

 

Engkau

Siluet senja sore itu  membuat bayanganmu semakin terlihat jelas

Diantara pekatnya debu dan pasir engkau sangat berkilau

Senyuman yang terpancar membuat diri ini semakin takjub

Engkau yang bisa menghapus mendung yang kadang menyapa

Engkau sungguh bersahaja,

Tak ada pamrih yang kulihat disemburat wajah itu

Hanya sebuah ketulusan dan kecintaanmu yang luar biasa

Dan kecintaanmu akan Tuhan yang akan selalu menguatkanmu

Aku tahu ada keletihan yang kau rasa karena

berjuta harapan kini ada dipundakmu

dengan impianmu yang seluas jagad raya ini

Tapi yakinlah akan ada sesuatu yang indah menantimu di ujung jalan

Sesuatu yang hanya akan menjadi milikmu karena engkau telah menyemai benih-benih kebaikan membawa keceriaan dan senyum indah disetiap sudut mata itu

Aku kan selalu berdoa untukmu